Pada tahun 2013 ini, insya allah akan terjadi gerhana matahari total. Penentuan gerhana matahari bisa dilakukan melalui beberapa metode hisab, termasuk hisab taqribi, tahqiqi, dan kontemporer. Berikut ini contoh perhitungan gerhana matahari total yang akan terjadi pada hari Jum'at wage, tanggal 10 Mei 2013 menggunakan data Ephemeris Hisab Rukyah Kementrian Agama RI.
1. Menentukan kemungkinan terjadi Gerhana (Nilai LB < 1034'45"), lihat data LB di Ephemeris nilai FIB terkecil = 0.00001 Nilai LB = -0° 13’ 19” Tanggal = 10 Mei 2013 M.
2. Mencari saat ijtima' (t). Data ELM dan ALB Dari Ephemeris
A. Cari S : ELM – ALB
S = 49° 30’ 24” - 49° 16’ 25” = 0° 13’ 59”
B. Cari V,langkahnya :
B1. kec.matahari / jam , cara : selisih ELM pada jam FIB terkecil dan di
bawahnya
ELM jam 0 = 49° 30’ 24” ELM jam 01 = 49° 32’ 49” Selisih = 0° 2’ 25”
B2. kec.bulan / jam , cara : selisih ALB pada jam FIB terkecil dan di
bawahnya
ALB jam 0 = 49° 16’ 25” ALB jam 01= 46° 46’ 41” Selisih = 0° 30’ 16”
B3. V = kec.bulan / jam – kec.matahari / jam
V = 0° 30’ 16” - 0° 2’ 25” = 0° 27’ 51”
C. Menentukan saat ijtima',Cara :
Saat Ijtima' = jam FIB terkecil + S / V
= 0 Jam + (0° 13’ 59” / 0° 27’ 51”) – 0° 1’ 49,09”
= 0° 28’ 18.45”
3. menentukan LB saat ijtima' : Cek Ulang (LB < 1034'45",jika LB < 1024'36" Pasti). Data LB dari Ephemeris,caranya : Interpolasi : A + C x (A – B )
LB jam 0 = -0° 13’ 19” LB jam 01 = -0° 16’ 06” Hasil = -0° 14’ 37,79”
4. Mencari data–data penunjang lainnya yaitu Semi Diameter Matahari, True Geocentris Distance, Semi Diameter Bulan, Paralak Matahari dan Paralaks Bulan saat istiqbal dengan cara menginterpolasi dengan rumus di atas.
SDM = 0° 15’ 50,36”
TGM = 1.009759729
SDB = 0° 14’ 25,62”
PB = 0° 54’ 40,53”
PM = 0° 0’ 8,71” (Paralak matahari menggunakan rumus: PM = 0° 0’ 8,794”/TGM)
5. Mengkoreksi LB dan V, Langkahnya :
a. Mencari H,cara : sin H = sin LB / sin 50
H = 2° 47’ 55,49”
b. Mencari LBM,cara : tan LBM = tan LB / sin H
LBM = 4° 58’ 52,01”
c. Mencari LBK,cara : sin LBK = sin H x sin LBM
LBK = 0° 14’ 34,48”
d. Mencari VK,cara : VK = cos LBK x V/ cos LBM
VK = 0° 27’ 57,32”
6. Mencari A,cara : PB + SDM - PM
A = 1° 10’ 22,18”
7. Mencari B,cara : A + SDB
B = 1° 24’ 47,08”
8. Mencari C,cara : A – SDB
C = 0° 55’ 56,56”
9. Mencari JI,cara : Cos JI = cos B / cos LBK
JI = 1° 23’ 32,1”
10. Mencari JG,cara : Cos JG = cos C / cos LBK.
JG = 0° 54’ 0,65”
11. Mencari T1,cara : JI / VK
T1 = 2° 59’ 17,37”
12. Mencari T2,cara : JG / VK
T2 = 1° 55’ 55,35”
13. Mencari pertengahan Gerhana (T0), langkahnya :
1. Mencari tk,cara :
a. Mencari SF,caranya : cos SF= cos LB/cos LBK
SF = 0° 01’ 16,16”
b. Tk = SF / VK
Tk = 0° 02’ 43,46”
2. koreksi T0,cara jika LB membesar maka T0 = t – tk.sedangkan jika LB mengecil maka T0 = t - Tk.
T0 = 0° 25’ 34,99”
3. T0 WIB = TT – ∆T + 7 jam.catatan : ∆T dari tabel
Hitung dulu ∆T dengan cara:
- y = tahun + (bulan – 0,5)/12
- t = y – 2000
- ∆T = 62,92 + (0,32217x t) + (0,005589 x t2 )
∆T = 0° 01’ 8,23” (Nilai aslinya adalah 68,23”, disederhanakan)
T0 WIB = 07.24.27 WIB
14. Menghitung kontak – kontak gerhana
Awal Gerhana = T0 – T1 =
= Pkl. 04.25.09 WIB
Awal Total = T0 – T2 =
= Pkl. 05.28.31 WIB
Ahir Total = T0 + T2 =
= Pkl. 09.20.22 WIB
Ahir Gerhana = T0 + T2 =
= Pkl. 10.23.44 WIB
15. Menentukan apa gerhana terlihat dari daerah kita
Bandung, pada tanggal 10 Mei 2013 bisa melihat gerhana, karena matahari terbit pada Pkl 05.48 WIB dan terbenamnya pada Pkl. 17.53 WIB
Kesimpulan:
Jum’at Wage, Tanggal 10 Mei 2013/ 29 Jumadil Akhir 1434 H,
Awal Gerhana = Pkl. 04.25.09 WIB
Awal Total = Pkl. 05.28.31 WIB
Tengah Gerhana = Pkl. 07.24.27 WIB
Ahir Total = Pkl. 09.20.22 WIB
Ahir Gerhana = Pkl. 10.23.44 WIB
Hasib
Encep Abdul Rojak
Rabu, 24 April 2013
Gerhana Matahari Total 2013
Pada tahun 2013 ini, insya allah akan terjadi gerhana matahari total. Penentuan gerhana matahari bisa dilakukan melalui beberapa metode hisab, termasuk hisab taqribi, tahqiqi, dan kontemporer. Berikut ini contoh perhitungan gerhana matahari total yang akan terjadi pada hari Jum'at wage, tanggal 10 Mei 2013 menggunakan data Ephemeris Hisab Rukyah Kementrian Agama RI.
1. Menentukan kemungkinan terjadi Gerhana (Nilai LB < 1034'45"), lihat data LB di Ephemeris nilai FIB terkecil = 0.00001 Nilai LB = -0° 13’ 19” Tanggal = 10 Mei 2013 M.
2. Mencari saat ijtima' (t). Data ELM dan ALB Dari Ephemeris
A. Cari S : ELM – ALB
S = 49° 30’ 24” - 49° 16’ 25” = 0° 13’ 59”
B. Cari V,langkahnya :
B1. kec.matahari / jam , cara : selisih ELM pada jam FIB terkecil dan di
bawahnya
ELM jam 0 = 49° 30’ 24” ELM jam 01 = 49° 32’ 49” Selisih = 0° 2’ 25”
B2. kec.bulan / jam , cara : selisih ALB pada jam FIB terkecil dan di
bawahnya
ALB jam 0 = 49° 16’ 25” ALB jam 01= 46° 46’ 41” Selisih = 0° 30’ 16”
B3. V = kec.bulan / jam – kec.matahari / jam
V = 0° 30’ 16” - 0° 2’ 25” = 0° 27’ 51”
C. Menentukan saat ijtima',Cara :
Saat Ijtima' = jam FIB terkecil + S / V
= 0 Jam + (0° 13’ 59” / 0° 27’ 51”) – 0° 1’ 49,09”
= 0° 28’ 18.45”
3. menentukan LB saat ijtima' : Cek Ulang (LB < 1034'45",jika LB < 1024'36" Pasti). Data LB dari Ephemeris,caranya : Interpolasi : A + C x (A – B )
LB jam 0 = -0° 13’ 19” LB jam 01 = -0° 16’ 06” Hasil = -0° 14’ 37,79”
4. Mencari data–data penunjang lainnya yaitu Semi Diameter Matahari, True Geocentris Distance, Semi Diameter Bulan, Paralak Matahari dan Paralaks Bulan saat istiqbal dengan cara menginterpolasi dengan rumus di atas.
SDM = 0° 15’ 50,36”
TGM = 1.009759729
SDB = 0° 14’ 25,62”
PB = 0° 54’ 40,53”
PM = 0° 0’ 8,71” (Paralak matahari menggunakan rumus: PM = 0° 0’ 8,794”/TGM)
5. Mengkoreksi LB dan V, Langkahnya :
a. Mencari H,cara : sin H = sin LB / sin 50
H = 2° 47’ 55,49”
b. Mencari LBM,cara : tan LBM = tan LB / sin H
LBM = 4° 58’ 52,01”
c. Mencari LBK,cara : sin LBK = sin H x sin LBM
LBK = 0° 14’ 34,48”
d. Mencari VK,cara : VK = cos LBK x V/ cos LBM
VK = 0° 27’ 57,32”
6. Mencari A,cara : PB + SDM - PM
A = 1° 10’ 22,18”
7. Mencari B,cara : A + SDB
B = 1° 24’ 47,08”
8. Mencari C,cara : A – SDB
C = 0° 55’ 56,56”
9. Mencari JI,cara : Cos JI = cos B / cos LBK
JI = 1° 23’ 32,1”
10. Mencari JG,cara : Cos JG = cos C / cos LBK.
JG = 0° 54’ 0,65”
11. Mencari T1,cara : JI / VK
T1 = 2° 59’ 17,37”
12. Mencari T2,cara : JG / VK
T2 = 1° 55’ 55,35”
13. Mencari pertengahan Gerhana (T0), langkahnya :
1. Mencari tk,cara :
a. Mencari SF,caranya : cos SF= cos LB/cos LBK
SF = 0° 01’ 16,16”
b. Tk = SF / VK
Tk = 0° 02’ 43,46”
2. koreksi T0,cara jika LB membesar maka T0 = t – tk.sedangkan jika LB mengecil maka T0 = t - Tk.
T0 = 0° 25’ 34,99”
3. T0 WIB = TT – ∆T + 7 jam.catatan : ∆T dari tabel
Hitung dulu ∆T dengan cara:
- y = tahun + (bulan – 0,5)/12
- t = y – 2000
- ∆T = 62,92 + (0,32217x t) + (0,005589 x t2 )
∆T = 0° 01’ 8,23” (Nilai aslinya adalah 68,23”, disederhanakan)
T0 WIB = 07.24.27 WIB
14. Menghitung kontak – kontak gerhana
Awal Gerhana = T0 – T1 =
= Pkl. 04.25.09 WIB
Awal Total = T0 – T2 =
= Pkl. 05.28.31 WIB
Ahir Total = T0 + T2 =
= Pkl. 09.20.22 WIB
Ahir Gerhana = T0 + T2 =
= Pkl. 10.23.44 WIB
15. Menentukan apa gerhana terlihat dari daerah kita
Bandung, pada tanggal 10 Mei 2013 bisa melihat gerhana, karena matahari terbit pada Pkl 05.48 WIB dan terbenamnya pada Pkl. 17.53 WIB
Kesimpulan:
Jum’at Wage, Tanggal 10 Mei 2013/ 29 Jumadil Akhir 1434 H,
Awal Gerhana = Pkl. 04.25.09 WIB
Awal Total = Pkl. 05.28.31 WIB
Tengah Gerhana = Pkl. 07.24.27 WIB
Ahir Total = Pkl. 09.20.22 WIB
Ahir Gerhana = Pkl. 10.23.44 WIB
Hasib
Encep Abdul Rojak
Jumat, 19 April 2013
Tata Cara Shalat Gerhana
Terdapat dua gerhana, yaitu gerhana matahari dan bulan. Rasulullah SAW. mengajarkan kepada umatnya, ketika terjadi gerhana disunahkan untuk melaksanakan shalat gerhana (matahari maupun bulan) 2 raka’at. Dalam setiap satu raka’at terdapat dua kali berdiri, artinya setelah melaksanakan rukuk yang pertama, kemudian berdiri lagi dan membaca fatihah layaknya permulaan shalat. Setelah selesai membaca fatihah dan surat, kemudian rukuk. Setelah rukuk berdiri lagi yang diteruskan dengan sujud. Sehingga ada perbedaan dalam hal berdirinya saja, yang lainnya sama seperti shalat biasa.
Hukum melaksanakannya adalah sunnah, sehingga sangat dianjurkan sekali untuk melaksanakannya, karena shalat sunah gerhana tidak terjadi setiap bulan, hanya pada bulan-bulan tertentu saja. Mumpung masih ada usia, mari kita usahakan untuk melaksanakan shalat gerhana bulan ini.
Setelah shalat sunnah selesai ditunaikan, selanjutnya dilanjutkan dengan khutbah dua kali, seperti khutbah pada pelaksanaan shalat jum’at, seperti yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. dalam hadis yang diriwaytkan oleh muslim. (Kifayatul akhyar: 189).
Bedanya pelaksanaan shalat gerhana matahari dan bulan. Dalam shalat gerhana bulan disunahkan untuk dikeraskan dalam bacaannya, sedangkan pada gerhana matahari disunahkan untuk dipelankan, walaupun imam sekalipun.
Ajaran yang diajarkan selanjutnya yaitu memperbanyak berdzikir selama gerhana itu masih terjadi. Bentuk dzikir di sini bermacam-macam, sebagai mana laiknya orang sudah mengetahui, bisa dengan membaca al-qur’an, atau bacaan yang lainnya yang mengandung tahmid, tasbih, dan tamjid. Dan ini merupakan nilai tambah bgi seorang muslim.
Selain itu, melakukan mandi pada saat terjadi gerhana juga merupakan salah satu ajaran yang dibenarkan. Sehingga sangat beruntung sekali bagi orang yang sempurna melaksanakan ibadah ini, dengan menjalankan dari yang terkecil, yaitu mandi, shalat gerhana, memperbanyak dzikir, dan memperbanyak sedekah.
- Hukum Shalat Gerhana
Hukumnya adalah sunnah muakkadah menurut kesepakatan ulama, berdasarkan dalil sunnah yang tsabit dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
- Waktu Shalat Gerhana
Yaitu sejak dimulainya gerhana sampai berakhirnya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Maka apabila engkau melihatnya –yaitu gerhana tersebut- maka shalatlah” (Muttafaqun alaihi)
Tidak disyariatkan shalat gerhana setelah gerhana itu selesai. Jika gerhana berakhir sebelum dia sempat shalat maka tidaklah disyariatkan shalat baginya.
- Sifat Shalat Gerhana
1. Dia shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaan –menurut pendapat ulama yang benar-
2. Dia membaca surat Al-fatihah dan surat yang panjang seperti surat Al-Baqarah atau yang seukuran
3. Lalu dia ruku’ dengan ruku’ yang panjang.
4. Setelah itu dia mengangkat kepalanya dari ruku dan membaca
“Sami’ Allahu liman hamidah rabbana lakal hamdu”
5. Lalu dia kembali membaca Al-Fatihah dan surat panjang yang lebih pendek dari surat pertama, seukuran Ali Imran.
6. Kemudian dia ruku’ dengan waktu ruku’ lebih pendek dari waktu ruku’ pertama.
7. Setelah itu dia angkat kepalanya dari ruku’ dan membaca,
“Sami’ Allahu liman hamidah rabbana lakal hamdu, hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiihi, mil’as samaai wa mil’al ardhi. Wa mil’a ma syi’ta min syai’in ba’du”
8. Lalu dia sujud dengan dua sujud yang panjang
9. Dia tidak panjangkan duduk di antara dua sujudnya
10. Kemudian dia kerjakan rakaat kedua seperti rakaat pertama dengan dua ruku dan dua sujud yang panjang.
11. Lalu dia bertasyahud, dan
12. Salam
Ini adalah sifat salat gerhana sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan dari banyak jalan, di antaranya dari dua shahih (Shahih Al-Bukhari dan Muslim, lihat Al-Bukhari no. 1046, dan Muslim 2088)
- Disunnahkan untuk melaksanakannya secara berjamaah sebagaimana yang dilakukan rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Boleh pula dilaksanakan sendiri sebagaimana shalat sunnah lainnya, namun melakukannya secara berjamaah lebih afdhal.
- Disunnahkan pula untuk memberikan nasehat kepada jama’ah setelah shalat, memperingatkan mereka dari berbagai kelalaian dan memerintahkan mereka untuk memperbanyak doa dan istighfar.
- Apabila gerhana masih berlangsung setelah shalat selesai, maka hendaklah berdzikir kepada Allah dan berdoa sampai gerhana berakhir, dan tidak mengulang shalat. (Dan dalam hadits diperintahkan pula untuk bershadaqah –wr1).
- Apabila gerhana selesai dan dia masih shalat hendaknya dia sempurnakan shalatnya dengan khafifah (dipercepat), tidak berhenti shalat begitu saja.
Kapan waktunya shalat gerhana?
Shalat gerhana berlaku selama gerhana itu masih terjadi. Misal gerhana terjadi selama 4 jam, maka selama itu dibenarkan apabil melaksanakan shalat gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan. Apakah boleh mengqadha? Menurut penulis, apabila tertinggal karena ada alasan yang dibenarkan maka boleh, tetapi apabila alasannya karena menyepelekan, itu tidak boleh. Lakukan pada waktunya.
Semoga kita diberi kekuatan untuk melaksanakannya. Amin
Rabu, 13 Februari 2013
Asal Usul Perayaan Valentine
Pada zaman modern ini, hari Valentine didominasi oleh hati berwarna pink dan yang dipanah oleh Cupid. Padahal asal-usul perayaan ini justru sangat berbeda jauh dengan simbol-simbol cinta ini.
Valentine sebenarnya adalah seorang biarawan Katolik yang menjadi martir. Valentine dihukum mati oleh kaisar Claudius II karena menentang peraturan yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah karena mereka akan dikirim ke medan perang.
Ketika itu, kejayaan kekaisaran Romawi tengah berada di tengah ancaman keruntuhannya akibat kemerosotan aparatnya dan pemberontakan rakyat sipilnya. Di perbatasan wilayahnya yang masih liar, berbagai ancaman muncul dari bangsa Gaul, Hun, Slavia, Mongolia dan Turki. Mereka mengancam wilayah Eropa Utara dan Asia. Ternyata wilayah kekaisaran yang begitu luas dan meluas lewat penaklukan ini sudah memakan banyak korban, baik dari rakyat negeri jajahan maupun bangsa Romawi sendiri. Belakangan mereka tidak mampu lagi mengontrol dan mengurus wilayah yang luas ini.
Untuk mempertahankan kekaisarannya, Claudius II tak henti merekrut kaum pria Romawi yang diangap masih mampu bertempur, sebagai tentara yang siap diberangkatkan ke medan perang. Sang kaisar melihat tentara yang mempunyai ikatan kasih dan pernikahan bukanlah tentara yang bagus. Ikatan kasih dan batin dengan keluarga dan orang-orang yang dicintai hanya akan melembekkan daya tempur mereka. Oleh karena itu, ia melarang kaum pria Romawi menjalin hubungan cinta, bertunangan atau menikah.
Valentine, sang biarawan muda melihat derita mereka yang dirundung trauma cinta tak sampai ini. Diam-diam mereka berkumpul dan memperoleh siraman rohani dari Valentine. Sang biarawan bahkan memberi mereka sakramen pernikahan. Akhirnya aksi ini tercium oleh Kaisar. Valentine dipenjara. Oleh karena ia menentang aturan kaisar dan menolak mengakui dewa-dewa Romawi, dia dijatuhi hukuman mati.
Di penjara, dia bersahabat dengan seorang petugas penjara bernama Asterius. Petugas penjaga penjara ini memiliki seorang putri yang menderita kebutaan sejak lahir. Namanya Julia. Valentine berusaha mengobati kebutaannya. Sambil mengobati, Valentine mengajari sejarah dan agama. Dia menjelaskan dunia semesta sehingga Julia dapat merasakan makna dan kebijaksanannya lewat pelajaran itu.
Julia bertanya, "Apakah Tuhan sungguh mendengar doa kita?"
"Ya anakku. Dia mendengar setiap doa kita."
"Apakah kau tahu apa yang aku doakan setiap pagi? Aku berdoa supaya aku dapat melihat. Aku ingin melihat dunia seperti yang sudah kau ajarkan kepadaku."
"Tuhan melakukan apa yang terbaik untuk kita, jika kita percaya pada-Nya,"sambung Valentine.
"Oh, tentu. Aku sangat mempercayai-Nya," kata Julia mantap.
Lalu, mereka bersama-sama berlutut dan memanjatkan doa.
Beberapa minggu kemudian, Julia masih belum mengalami kesembuhan. Hingga tiba saat hukuman mati untuk Valentine. Valentine tidak sempat mengucapkan perpisahan dengan Julia, namun ia menuliskan ucapan dengan pesan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Tak lupa ditambahi kata-kata,"Dengan cinta dari Valentin-mu" (yang akhirnya menjadi ungkapan yang mendunia). Ia meninggal 14 Februari 269. Valentine dimakamkan di Gereja Praksedes Roma.
Keesokan harinya , Julia menerima surat ini. Saat membuka surat, ia dapat melihat huruf dan warna-warni yang baru pertama kali dilihatnya. Julia sembuh dari kebutaannya.
Pada tahun 496, Paus Gelasius I menyatakan 14 Februari sebagai hari peringatan St. Valentine.
Kebetulan tanggal kematian Valentine bertepatan dengan perayaan Lupercalia, suatu perayaan orang Romawi untuk menghormati dewa Kesuburan Februata Juno. Dalam perayaan ini, orang Romawi melakukan undian seksual! Caranya, merka memasukkan nama ke dalam satu wadah, lalu mengambil secara acak nama lawan jenisnya. Nama yang didapat itu menjadi pasangan hidupnya selama satu tahun. Lalu pada perayaan berikutnya mereka membuang undi lagi.
Rupanya Paus tidak sreg pada cara perayaan ini. Karena itulah, gereja sedikit memodifikasi perayaan ini. Mereka memasukkan nama-nama santo dalam kotak itu. Selama setahun setiap orang akan meneladani santo yang tertulis pada undian yang diambilnya. Untuk membuat acara itu sedikit lucu, gereja juga memasukkan nama Simeon Stylites. Orang yang mengambil nama ini dianggap apes alias tidak mujur, soalnya Simeon menghabiskan hidupnya di atas pillar, tidak beranjak satu kali pun.
Nama Valentine lalu diabadikan dalam festival tahunan ini. Di festival ini, pasangan kekasih atau suami istri Romawi mengungkapkan perasaan kasih dan cintanya dalam pesan dan surat bertuliskan tangan. Di daratan Eropa tradisi ini berkembang dengan menuliskan kata-kata cinta dan dalam bentuk kartu berhiaskan hati dan dewa Cupid kepada siapapun yang dicintai. Atau memberi perhatian kecil dengan bunga, coklat dan permen.
Di zaman modern, kebiasaan menulis surat dengan tangan diangap tidak praktis. Lagipula, tidak setiap orang bisa merangkaikan kata-kata yang romantis. Lalu muncullah kartu valentine yang dianggap lebih praktis. Kartu Valentine modern pertama dikirim oleh Charles seorang bangsawan Orleans kepada istrinya, tahun 1415. Ketika itu dia mendekam di penjara di Menara London. Kartu ini masih dipameran di British Museum. Di Amerika,Esther Howland adalah orang pertama yang mengirimkan kartu valentine. Kartu valentine secara komersial pertama kali dibuat tahun 1800-an.
Sayangnya dari hari ke hari, perayan Valentine telah kehilangan makna yang sejati. Semangat kasih dn pengorbanan St. Valentine telah dikalahkan oleh nafsu komesialisasi perayaan ini. Untuk itulah kita perlu mengembalikan makna perayaan ini, seperti dalam 1 Yohanes 4:16: "Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia"
Selasa, 15 Januari 2013
RUMUS-RUMUS MARAWIS
http://www.youtube.com/watch?v=VQ4e7ayufr4&feature=youtu.be
Rumus Marawis
JEHIPHE
Tanya : O ' X X O X X X O X X X O X X X O
Jawab: O ' X X " X X X X X X X X X X X X (pukulan X yg ke-3 smpai trakhir selang seling sengan tanya)
Rempel : O ' X X O XXX XXO XXX XXO (tempo cepat,posisi O slalu sma dengan tanya.)
ket;
O : dung
X :tak
' :jeda 1 ktukan
'' : jeda 1/2 ktukan
ini rumus dasar
untuk pengembangannya lain waktu
SARAH
Tanya & jawab :X X X X X X X X X X X X X X X (ketukan selang seling)
Rempel : X X X XX XX XX XX XX XX
rumus dasar.
ZAFIN
jawab lagu
tanya & jawab : X O X O X X O ' X O X O X X O ' X O X O X X O (ketukan selang seling )
seblum lg
tanya: X X O O X X O O X X X O
X X O O X X O O X X O O
X X O O X X O O X O X O
jawab : X O X O X O X O X O X O
Rumus Hadrah
Kunci Al-Banjari
1. DT DDD / TDT DDD / ( diketuk ber xx mengikuti lagu )
2. TD TTTT TTTD DDDD DDDD TTT. D. TTTT TTT. D. TTTD
3. T.T.T. TTTT TTT. D. TTTD TTT. D. TTTD TTT. D. TTTD
4. T.T.T. TTTT TTT. D. TTTD TTT. D. TTTD TTT. D. TTTD
TTT. D. TTT DD
TTT. D. TTTD
1. D.T DDDT / TDTT DDDT / ( diketuk ber xx mengikuti lagu )
2. TDTT TTTT TDDD DDDD DDTT TTDT TTTT TTDT TD
3. T. TTTT TTTT TTDT TDTT TTDT TDTT TTDT TD
4. T. TTTT TTTT TTDT TDTT TTDT TDTT TTDT TDTT
TTDT TDDT
TTDT TD
Ket : Rumus di atas adalah rumus dasar (belum diterapkan pada lagu), apabila akan diterapkan pada lagu maka rumus tersebut diketuk dengan mengikuti panjang pendeknya lagu, dengan cara dikurangi atau ditambah. Ketentuannya, untuk rumus A (yang ditambah atau dikurangi) adalah pada ketukan TTT. D. TTT D dan untuk rumus B pada ketukan TTDT TDTT.
CONTOH PENERAPAN PADA LAGU
Lagu Assalamu’alaik : Baris nomor 3 diketuk 2x, baris nomor 4 dikurangi 1
Lagu Yaa Nabi Salam ’Alaik : Baris nomor 4 ditambah 1.
Lagu Yaa Imamarrusli : Baris nomor 3 diketuk 2x, baris nomor 4 dikurangi 1.
Lagu Thola’al Badru : Baris nomor 3 dikurangi 1.
CONTOH VARIASI KETUKAN AWALAN LAGU
D / D DDD / T DDD...
D / TD TDD / T DDD...
D / D. D. D TT D / T DDD...
D / DD D / T DDD...
D / D D DD / T DDDT...
D / TD T. DD / T DDDT...
D / D. D. D TT TD / T DDDT...
D / DD D / T DDDT...
CONTOH KETUKAN BASS
D / D DD D
D / DD DD D
D / D DD D
D / D DD DD D D
D / D D D
Ket : Untuk ketukan awalan Bas, mengikuti ketukan awalan pada rumus A.
RUMUS DASAR HADLROH ( pelan )
ASSALAMU’ALAIK
A. 1. T. D. TT TD ( diketuk ber xx mengikuti lagu )
2. T. D. TT TDD TT TT T TT TD D DD DD D DD DD
T. TT D TT TT T TT TT D TT TD
B. 1. T. DT. TD ( diketuk ber xx mengikuti lagu )
2. T. DT. T. DDT T. TT T T. DD D D DD D DDT
TT D TT T TT TT TT D TT TD
MAULAYA
A. 1. D/ DD. T. TT. TD / ( diketuk ber xx mengikuti lagu )
2. DD. T. TT. TDD TT TT T TT TD D DD DD D DD DD
T. TT D TT TT T TT TT D TT TD
3. T. TT D TT TT T TT TT D TT TD T TT TT D TT TD
T TT TT D TT TDD TT TT D TT TD
B. 1. D/ DD. T. TD / ( diketuk ber xx mengikuti lagu )
2. DD. T. T. DD T T. TT T T. DD D D DD D DDT
TT D TT T TT TT TT D TT TD
3. T.T.T. DT T TT TT TT D TT TD TT TT D TT TD
TT TT D TT T DD TT TT D TT TD
EKSTRA BONUS VARIASI
1. A. D/ TD TDD / ( Huwannur, Ala Ya Rosulalloh )
B. D/ TD T. DD /
2. A. DD/ TT TT T. DD / ( Ya Madihan )
B. DD/ TT T TT TDD /
3. A. D/ TD T DDD / TT TT TD ( Ya Robbana’tarofna )
B. D/ TD T. DD DD / TT T TT TD
4. A. D/ T DT DT DD / ( Saaltulloh Barina )
B. D/ TD TD T. D DD /
5. A. DT / T DDX ( Ya Badrotim )
B. DT / T. DD DX
6. A. DTT. DTTD TT XX ( Lagu bebas )
B. D. TT. D. TT. TD. TT. XX.
Sabtu, 27 Oktober 2012
Sejarah Idul Adha
23 Oktober 2012
Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS menyembelih kurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang mengaguminya, bahkan para malaikat pun terkagum-kagum atas kurbannya.
“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.
Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma’il, artinya “Allah telah mendengar”. Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: “Allah mendengar doaku”.
Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).”
Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah (artinya, berpikir/merenung).
Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah.
Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.
Pada mimpi untuk ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah.” Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya.
Kemudian beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Pada saat itu, Iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan belum pernah sesibuk itu. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ismail yang melihatnya segera mendekati ayahnya.
“Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?” seru Iblis.
“Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya),” jawab Nabi Ibrahim AS.
Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblsi pun datang menemui ibunya, Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih?” goda Iblis.
“Kau jangan berdusta padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar.
“Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?” rayu Iblis lagi.
“Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar balik bertanya.
“Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu”, goda Iblis meyakinkannya.
“Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa!” jawab Hajar dengan mantap.
Iblis gagal untuk kedua kalinya, namun ia tetap berusaha untuk menggagalkan upaya penyembelihan Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri Ismail seraya membujuknya, “Hai Isma’il! Mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja, padahal ayahmu mengajakmu ketempat ini hanya untk menyembelihmu. Lihat, ia membawa tali dan sebilah pedang,”
“Kau dusta, memangnya kenapa ayah harus menyembelih diriku?” jawab Ismail dengan heran. “Ayahmu menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu” kata Iblis meyakinkannya.
“Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab Ismail dengan mantap.
Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, mendadak Ismail memungut sejumlah kerikil ditanah, dan langsung melemparkannya ke arah Iblis hingga butalah matanya sebelah kiri. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji.
Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh) sebanyak-banyaknya.
Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”
“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma’il.
Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”
Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.
Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”
Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.
Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)
Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).
Sumber: Nasiruddin, S.Ag, MM, 2007, Kisah Orang-Orang Sabar, Republika, Jakarta
“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.
Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma’il, artinya “Allah telah mendengar”. Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: “Allah mendengar doaku”.
Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).”
Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah (artinya, berpikir/merenung).
Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah.
Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.
Pada mimpi untuk ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah.” Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya.
Kemudian beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Pada saat itu, Iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan belum pernah sesibuk itu. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ismail yang melihatnya segera mendekati ayahnya.
“Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?” seru Iblis.
“Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya),” jawab Nabi Ibrahim AS.
Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblsi pun datang menemui ibunya, Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih?” goda Iblis.
“Kau jangan berdusta padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar.
“Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?” rayu Iblis lagi.
“Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar balik bertanya.
“Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu”, goda Iblis meyakinkannya.
“Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa!” jawab Hajar dengan mantap.
Iblis gagal untuk kedua kalinya, namun ia tetap berusaha untuk menggagalkan upaya penyembelihan Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri Ismail seraya membujuknya, “Hai Isma’il! Mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja, padahal ayahmu mengajakmu ketempat ini hanya untk menyembelihmu. Lihat, ia membawa tali dan sebilah pedang,”
“Kau dusta, memangnya kenapa ayah harus menyembelih diriku?” jawab Ismail dengan heran. “Ayahmu menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu” kata Iblis meyakinkannya.
“Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab Ismail dengan mantap.
Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, mendadak Ismail memungut sejumlah kerikil ditanah, dan langsung melemparkannya ke arah Iblis hingga butalah matanya sebelah kiri. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji.
Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh) sebanyak-banyaknya.
Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”
“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma’il.
Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”
Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.
Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”
Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.
Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)
Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).
Sumber: Nasiruddin, S.Ag, MM, 2007, Kisah Orang-Orang Sabar, Republika, Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)
